
Kembali ke : Halaman Utama
Sampah dan Limbah
Hampir setiap hari kita melihat sampah dan limbah. Ketika kita berjalan di tepi sungai-sungai Jakarta, kita masih sering melihat air berwarna hitam dan berbau, ada pula bungkus makanan yang ikut hanyut di permukaan sungai.
Sampah dan limbah memiliki persamaan dan perbedaan. Keduanya sama-sama merupakan bahan sisa. Perbedaan keduanya tampak dalam tabel berikut ini.
|
Perihal |
Sampah |
Limbah |
| Asal | Aktivitas manusia sehari-hari | Proses kegiatan produksi dan industri |
| Wujud materi | Biasanya padatan | Biasanya cairan dan gas |
| Pengolahan kembali | Mudah, masih memungkinkan | Sulit, bahkan tidak dapat sama sekali |
Sampah dapat mempengaruhi kualitas air. Air yang penuh dengan sampah mengundang bakteri untuk tinggal di dalamnya, selain itu zat kimia yang terkandung pada sampah bisa terlarut dalam air. Sampah organik yang bercampur dalam aliran air bisa menjadi endapan lumpur yang mengganggu aliran air.
Sampah plastik dalam air tidak mudah terurai. Sekalipun hancur, partikel sampah plastik menjadi nano-plastik yang tidak tampak tetapi sangat berbahaya bagi tubuh makhluk hidup yang mengkonsumsinya.
Limbah merupakan masalah besar dalam kegiatan industri. Limbah sulit diolah kembali. Kebanyakan pabrik tidak menangani pengolahan limbah dengan baik dan membuangnya ke saluran air. Limbah seharusnya diolah secara terpisah, sehingga tidak masuk ke dalam sistem limpasan air seperti sungai, waduk, dan danau. Limbah yang merupakan campuran tak larut misalnya ampas kedelai, ampas kelapa masih mungkin diolah. Tetapi limbah yang berupa larutan kimia, seperti pewarna tekstil untuk pakaian sangat sulit untuk diolah.
Polutan
Semua bahan sisa, baik sampah maupun limbah, disebut polutan jika sudah masuk ke ekosistem tertentu (terutama ekosistem sungai) dan mencemarinya. Ekosistem yang tercemar sangat berbahaya, baik bagi hewan, tumbuhan, maupun manusia.
Polutan memiliki berbagai dampak bagi kualitas air. Air menjadi tidak layak konsumsi karena tidak jernih, berbau, mengandung zat kimia, dan bakteri berbahaya. Ikan yang terdapat pada perairan menjadi banyak yang mati. Sekalipun ikan tertentu mampu bertahan hidup, tetapi berbahaya bila dikonsumsi manusia. Tumbuhan-tumbuhan air juga banyak yang mati karena zat kimia yang terlarut dalam air.
Untuk itu perlu usaha-usaha pengendalian polutan tersebut. Usaha-usaha tersebut dilakukan oleh semua pihak. Tidak hanya mengandalkan pemerintah, namun seluruh warga masyarakat wajib mengambil partisipasi aktif untuk kepedulian lingkungannya.
- Kesadaran bersama bahwa saat ini sampah dan limbah sudah melebihi batas. Kesadaran ini dikembangkan melalui himbauan dan saling mengingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya sesuai jenisnya.
- Menyediakan tempat sampah yang cukup bagi setiap rumah atau beberapa rumah yang saling bersebelahan.
- Membudayakan penggunaan bahan yang tidak sekali pakai, apalagi jika bahan tersebut berupa plastik dan sterofoam.
- Pemerintah perlu dengan tegas untuk menindak pelaku usaha industri atau pabrik yang tidak mengolah limbah dengan baik, tanpa pandang bulu.
- Penanaman pohon berkayu, seperti jati, dan pohon mangga, atau pohon berumpun lebat, misalnya bambu yang mampu menyerap zat-zat kimia agar lebih berkurang.
- Sistem pengolahan air bersih pada sungai-sungai yang tercemar sehingga menjadi lebih bersih.
- Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai perlu bertanggung jawab terhadap kebersihan sungai dengan
gotong royong membersihkan sungai. - Perlunya komitmen untuk memanfaatkan kembali sampah (mendaur ulang sampah) atau menggunakan sampah sebagai bahan kerajinan yang bernilai ekonomi.
Sedimentasi dan Pendangkalan
Materi-materi yang tercampur dalam aliran air akan sangat mempengaruhi kualitas air. Selain sampah dan cairan, bahan yang tercampur dengan air sungai adalah tanah dan pasir. Tanah dan pasir dibawa oleh air sungai dalam proses alirannya.
Hal ini diperparah dengan adanya erosi yang terjadi di bantaran sungai. Erosi merupakan pengikisan tanah yang disebabkan oleh aliran fluida seperti aliran air hujan dan sungai.
Tanah yang tercampur di tanah akan mengalami pengendapan. Pengendapan disebut juga sedimentasi, sedangkan endapan disebut juga dengan sedimen. Sedimentasi merupakan proses turunnya materi yang tercampur dalam air ke bagian dasar air.
Sedimentasi terjadi akibat beberapa hal. Adanya gaya gravitasi bumi yang menarik seluruh benda ke arah inti bumi. Berat jenis benda pencampur, misalnya tepung, lebih besar daripada berat jenis air sehingga tepung dapat mengendap.
Pada sungai, arus air sungai juga mempengaruhi endapan. Air yang tenang, akan mudah membentuk endapan. Berbeda jika air mengalir deras, endapan akan sulit terbentuk.
Jika pada hulu dan hilir sungai banyak pohon ditebang, maka air akan mengikis tanah dan pasir dengan mudah. Sedimentasi pada perairan banyak terjadi pada jalur limpasan air, seperti sungai, danau, waduk. Sedimentasi terjadi karena air membawa partikel tanah, pasir pada saat mengalir . Partikel tanah dan pasir tersebut lama-kelamaan akan mengendap pada bagian tertentu pada sungai. Sedimentasi yang terus menerus akan mengakibatkan pendangkalan.
Pendangkalan merupakan situasi yang tampak akibat terjadinya sedimentasi yang terus menerus dan tidak terkendali.
Pendangkalan dapat diperparah dengan adanya sampah dan limbah, khususnya di dekat kota-kota besar. Air mengalir bersama partikel lumpur, tanah, pasir, sisa-sisa organik, sampah plastik, dan lain-lain Bahan-bahan tak larut tersebut dapat mengendap di dasar sungai sehingga lama-kelamaan akan membuat sungai menjadi dangkal.
Pendangkalan mengakibatkan kedalaman perairan menjadi berkurang, kemampuan menampung air menjadi sangat rendah, sehingga jika terjadi hujan deras akan meluapkan air dan mengakibatkan banjir.
Cara mencegah sedimentasi dan pendangkalan yaitu :
1. Menjaga lingkungan hutan agar tidak ditebang dengan sembarangan
2. Mengolah sampah dan limbah agar tidak masuk ke jalur limpasan air
3. Melakukan penghijauan kembali lahan yang gundul
Cara mengatasi pandangkalan yaitu dengan melakukan pengerukan sungai, waduk, atau danau yang sudah mengalami pendangkalan dengan alat berat, tentu saja cara ini membutuhkan biaya yang sangat besar.
Sampah dan limbah sangat berpengaruh terhadap sedimentasi sungai dan pendangkalan yang terjadi selanjutnya. Oleh karena itu kita semua harus membiasakan untuk tidak membiarkan sampah dan limbah masuk ke jalur aliran air supaya kita dapat mengurangi dampak buruk dari pendangkalan.
Jangan lupa, kunjungi pula media sosial kami!
Youtube : SD Strada Van Lith 1
Facebook : SD Strada Van Lith 1
Instagram : sdstrada_vanlith1
Recent Comments