Kembali ke : Halaman Utama

A.  Penggolongan Corak Karya Seni Rupa Daerah Nusantara

Dalam perkembangannya seni memiliki tiga corak besar yaitu corak kuno, corak klasik, dan corak kontemporer. Semua karya seni rupa tradisional  memiliki gaya klasik. Klasik dapat diartikan sebagai sederhana namun bernilai / bermutu tinggi.

Dalam perkembangannya, corak seni rupa tradisional Indonesia dapat dibedakan berdasarkan masanya. Karena situasi pada masa tersebut juga sangat berpengaruh pada kesenian daerah.

  • Corak Prasejarah, seni rupa sangat  sederhana, nilai seni yang  ditampilkan sangat  terbatas.
  • Corak Hindu Buddha, dipengaruhi oleh seni dari India.
  • Corak Islam, dipengaruhi dipengaruhi kebudayaan Islam.
  • Corak Kolonial, corak Eropa tidak terlalu berpengaruh pada seni rupa Indonesia.
  • Corak Kontemporer (Modern), corak sangat beragam dan bervariasi, dipengaruhi corak-corak negara lain, karena pengaruh teknologi komunikasi dan informasi yang modern.
Masa Prasejarah

Masa prasejarah adalah masa  manusia belum mengenal tulisan  sebagai alat komunikasi. Corak pada masa ini terbagi atas :

  1. Corak Zaman Batu Tua
    Barang perlengkapan sehari- hari terbuat dari batu dan tulang. Seni rupa hanya  terbatas pada bentuk perkakas-perkakas tersebut. Bisa dikatakan bahwa pada zaman ini manusia belum mengenal nilai seni.
  2. Corak Zaman Batu Muda
    Barang perlengkapan sehari-hari masih terbuat dari batu dan tulang hewan. Sudah mulai tampak nilai seni dalam perkakas-perkakas sehari-hari. Sudah mulai dibuat patung- patung yang menggambarkan identitas pemimpin / leluhur.
  3. Corak Zaman Perunggu
    Barang perlengkapan sudah beralih berbahan logam. Corak dan penerapan seni dalam sudah lebih berkembang.

Corak Hindu Buddha

Pada masa ini kesenian dipengaruhi  oleh gaya seni dari India, karena  hubungan yang terjalin antara Nusantara dan Hindia. Corak pada masa ini terbagi atas :

  1. Corak Hindu
    Kesenian berpusat di istana sebagai media pengabdian kepada raja. Berpusat pada bangunan keagamaan sebagai media upacara peribadatan. Berpedoman pada tradisi agama Hindu, menampilkan dewa dan makhluk mitologi Hindu. Bahan yang paling banyak digunakan adalah batu, logam, kayu dan bambu. Dalam kalangan istana, juga menggunakan emas sebagai bahan karya seninya.
  2. Corak Buddha
    Kesenian berpusat di istana dan bangunan keagamaan. Berpedoman pada tradisi agama  Buddha, menampilkan figur Sang  Buddha, bentuk stupa, pohon  bodhi dan bunga teratai. Bahan yang digunakan adalah batu, logam (seperti tembaga, perunggu, dan emas), kayu dan bambu.
Corak Islam

Pada masa ini kesenian dipengaruhi  tradisi hukum Islam. Pada masa ini seni patung tidak berkembang. Hal ini terjadi karena penerapan hukum agama. Tidak terdapat patung yang bercorak Islam, karena hukum Islam tidak memperbolehkannya.

Kesenian masih berpusat di istana dan bangunan keagamaan seperti dalam masjid-masjid. Masih mengandung unsur zaman Hindu Buddha tetapi menghilangkan  bentuk patung atau menyerupai  manusia dan hewan. Lebih menekankan pada garis yang  saling saling-silang daripada bentuknya. Bentuk yang paling banyak digunakan adalah bentuk segi delapan.

Corak Kolonial

Masa kolonial adalah masa Indonesia di bawah pemerintahan bangsa Eropa. Walaupun begitu, pengaruh corak seni rupa dari Eropa  tidak begitu tampak di Indonesia. Kebanyakan corak  tadisional Hindu, Buddha, dan Islam masih dipertahankan.

Corak dari Eropa tidak mudah masuk ke Indonesia karena  Kerajaan Islam masih cukup berpengaruh pada masa kolonial (Masa Kolonial hampir bersamaan dengan Masa Islam) Corak yang berasal dari Eropa kebanyakan berkembang pada gereja  dan bangunan-bangunan pemerintah  kolonial. Hampir tidak ada corak Eropa yang berkembang di kalangan rakyat. Gereja biasa menggunakan gaya Eropa  karena digunakan orang-orang Eropa  untuk beribadah.

Setelah teknologi semakin berkembang, seni rupa tradisional Indonesia memasuki masa modern dengan corak kontemporer yang sangat beragam

 

B.  Perkembangan Karya Seni Rupa Daerah Nusantara pada Masa Kini

Pada masa sekarang ini seni sudah berubah menjadi sangat beragam. Pembuatan karya seni pun sudah menggunakan teknologi modern. Kita dapat membuat sebuah karya menggunakan mesin sehingga menghemat waktu dan tenaga.

Walaupun sekarang ini dunia memasuki masa modern, namun seni rupa daerah Nusantara masih bertahan dengan baik. Banyak seniman rupa Nusantara dan para pengrajin yang tetap mempertahankan seni-seni yang unik. Bahkan masyarakat bersama pemerintah menggalakkan pengembangan seni rupa daerah sebagai bentuk daya tarik pariwisata.

Di berbagai daerah masih banyak terdapat sanggar-sanggar dan bengkel seni yang menghasilkan berbagai karya seni daerah berkualitas yang banyak dikagumi oleh bangsa lain dari berbagai negara.

Oleh karena itu kita sebagai warga Nusantara harus mau belajar untuk dapat mempertahankan seni rupa daerah yang menjadi salah satu kebanggaan kita. Jangan sampai kesenian daerah menjadi punah karena tidak lagi banyak digemari oleh warga negara kita.

Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan yaitu :

  1. Mau mempelajari cara membuat karya seni rupa daerah, bisa secara langsung, maupun belajar melalui tutorial yang banyak ditemukan di media sosial.
  2. Berkunjung ke pameran seni, sanggar-sanggar, dan bengkel seni rupa sebagai bentuk memberi dukungan kepada seniman-seniman dan pengrajin.
  3. Membeli suvenir dan cenderamata yang bercorak khas daerah ketika berkunjung ke tempat-tempat wisata. Membeli berarti ikut memberikan penghasilan bagi para pelaku seni.

 


Jangan lupa, kunjungi pula media sosial kami!
Youtube : SD Strada Van Lith 1
Facebook : SD Strada Van Lith 1
Instagram : sdstrada_vanlith1

 

 

Sebarkan artikel ini