Kembali ke : Halaman Utama

 

Kalau kamu suka membaca buku, kamu dapat menemukan berbagai macam teks. Ada yang berisi opini (pendapat), ada yang berisi deskripsi (penjelasan), dan lain-lain. Kita bisa membedakan sebuah teks berdasarkan isi atau konten yang disajikan.

Salah satu jenis teks berdasarkan isinya adalah teks sejarah. Sejarah adalah sebuah urutan kisah masa lampau yang mengurutkan kejadian-kejadian dan hubungannya satu sama lain. Biasanya teks sejarah diberi keterangan waktu, berupa tanggal, bulan, atau tahun.

Pengertian Teks Sejarah
Teks sejarah merupakan teks yang menjelaskan fakta kejadian di masa lalu, asal usul sesuatu dan tersusun berdasarkan kronologi atau urutan peristiwa.

Ciri-Ciri Teks Sejarah
Baik teks sejarah fiksi maupun non fiksi memiliki karakteristik atau ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Berisi fakta
  2. Menceritakan ulang suatu peristiwa sejarah
  3. Berbentuk kronologis, artinya tersusun dari rangkaian atau urutan peristiwa yang saling berkaitan.

 

Jenis Teks Sejarah
Teks cerita sejarah ada 2 jenis, yaitu berupa nonfiksi dan berupa fiksi. Berikut pengertian, dan perbedaan di antara keduanya.

  1. Teks Sejarah Nonfiksi

Teks sejarah nonfiksi adalah teks yang menyajikan kembali peristiwa sesuai dengan urutan sebenarnya. Tokoh yang diceritakan pun benar-benar nyata, berisi fakta sejarah, dan bertujuan menambah ilmu pengetahuan.

Struktur teks sejarah nonfiksi hanya terdiri dari 3 bagian, yaitu:

  • Pengantar atau Orientasi, merupakan pembuka atau pengantar dari teks sejarah. Ini berisi pengenalan secara umum peristiwa yang akan dijelaskan.
  • Kronologi, kronologi atau disebut juga rangkaian peristiwa. Kejadiannya harus berurutan dan saling berkesinambungan satu sama lain.
  • Penutup, bagian ini merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan opini penulis. Bagian ini tidak wajib, boleh ada atau tidak.

Teks pada Materi IPS “Sejarah Kedatangan Bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara” merupakan contoh teks sejarah nonfiksi. Dalam teks tersebut sejarah disajikan dengan sebenarnya, tanpa ditambah dengan unsur-unsur fiksi (imajinasi).

  1. Teks Sejarah Fiksi

Teks sejarah fiksi tidak sepenuhnya berpatokan pada fakta sejarah. Biasanya, pengarang menggunakan peristiwa sejarah sebagai latar belakang suasana saja. Teks sejarah fiksi sering disebut juga teks cerita sejarah. Contohnya adalah cerpen sejarah, dan novel sejarah.

Sedangkan untuk unsur fiksinya, dapat ditambahkan tokoh fiktif yang seolah-olah menyaksikan peristiwa tersebut. Misalnya, kisah sejarah Perang Diponegoro dengan tokoh-tokoh dan latar yang sebenarnya, tetapi dapat ditambahkan – misalnya, dengan tokoh “Paijo” yang seolah-olah menjadi saksi peristiwa Perang Diponegoro dengan tambahan beberapa aktivitas imajinatif yang dilakukan Paijo.

Dalam contoh di atas, tokoh utamanya adalah Paijo, tetapi latar belakang yang ingin ditampilkan adalah peristiwa Perang Diponegoro.

Struktur teks sejarah fiksi hampir sama dengan struktur  cerita pendek  atau novel. Sebuah cerita fiksi biasanya diawali – pertama, dengan pengenalan tokoh dan latar cerita. Kedua, dilanjutkan dengan kronologi (urutan kejadian) yang semakin kompleks dan menampilkan berbagai masalah. Ketiga, adalah puncak masalah. Keempat, penyelesaian masalah dan solusi, Kelima, bagian penutup yang dapat menyajikan pesan-pesan moral dari cerita yang disajikan.

Berikut ini contoh teks sejarah fiksi yang disadur dari Sekolahnesia.com.

 

Indonesia Merdeka
Namaku Sanusi, saat itu umurku masih sekitar 14 tahun. Tepat di tanggal 17 Agustus 1945, saat itu juga bertepatan dengan bulan Ramadhan, sehingga aku, ayah dan adikku keluar rumah tidak sarapan karena kami sedang menjalankan ibadah puasa. Kami keluar rumah pukul 09.00 pagi, namun tidak seperti biasanya jalan-jalan di sekitar rumahku sepi dari lalu lalang warga.

Sebenarnya aku merasa heran, namun aku diam saja dan terus berjalan mengikuti ayahku dan ternyata ayahku membawa aku dan adikku ke sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56. Dari jauh saja sudah terlihat bahwa di sekeliling rumah bercat putih dengan sebuah tiang bendera dari bambu itu sudah ramai dipenuhi banyak orang.
Melihat banyak orang berkumpul seperti itu tentu saja semakin menambah rasa penasaran dalam diriku. Ada banyak pemuda yang berbaris rapi, serta banyak pula tampaknya tamu undangan yang duduk dengan rapi di deretan kursi yang telah disediakan. Sementara itu, pada bagian luar rumah sudah berkumpul masyarakat dari berbagai kalangan.

 

Hampir semua masyarakat yang berkumpul di sekitar rumah tersebut membawa bambu runcing, batu, sekop, parang, golok dan berbagai barang yang bisa dijadikan sebagai senjata. Segala benda yang dibawa oleh mereka seakan menggambarkan tekad mereka untuk berani mati demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Saat aku, ayah dan adikku semakin berjalan mendekat ke area rumah itu, semakin terdengar seruan masyarakat yang berteriak-teriak “Sekarang, Bung, Sekarang!, Segera nyatakan sekarang”. Masyarakat tampaknya memang sudah tidak sabar menunggu dan tentu saja seruan itu juga menunjukkan kekhawatiran mereka terhadap tentara Jepang yang akan menghalangi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Tak seberapa lama kami menunggu, akhirnya dari dalam rumah tersebut keluar dua orang berkemeja putih. Salah satu diantara orang yang keluar itu membawa selembar kertas dan dengan tegas, beliau membacakan isi dari kertas yang berisi pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Mendengar teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu aku sangat terharu. Aku tidak menyangka di usiaku yang baru 14 tahun waktu itu, aku menyaksikan sebuah peristiwa besar dalam perjalanan Indonesia. Aku sangat bangga dapat menjadi bagian dari kemerdekaan bangsaku yang tercinta ini.

Aku berharap semoga rakyat Indonesia bisa terus bersatu seperti saat masa-masa perjuangan Indonesia melawan penjajah. Semoga satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia akan terus bertahan selamanya. Setelah Proklamasi dibacakan itu, aku, ayah dan adikku pulang dengan rasa bahagia dan bangga sebab Indonesia sudah merdeka.

 

Kaidah Kebahasaan Teks Sejarah

Kaidah kebahasaan sendiri dapat dipahami sebagai pedoman bahasa dari sebuah teks. Kaidah kebahasaan itu meliputi :

  • Kata ganti
  • Keterangan waktu
  • Keterangan tempat
  • Konjungsi
  • Nomina
  • Verba

Tetapi dalam pembahasan materi ini kita hanya mempelajari 3 kaidah saja yaitu kata ganti, keterangan waktu, dan keterangan tempat dalam teks sejarah. Berikut ini adalah kaidah kebahasaan dari teks cerita sejarah yang perlu diperhatikan, di antaranya yaitu:

1. Kata ganti orang ketiga
Teks sejarah banyak menggunakan kata ganti orang ketiga. Penulis dapat memposisikan diri sebagai pencerita dari peristiwa yang terjadi. Kata ganti orang ketiga sendiri dapat dibagi menjadi dua jenis, dari kata ganti tunggal (ia, beliau, dia, dan -nya) dan kata ganti jamak (mereka). Selain kedua jenis kata ganti tersebut, kata ganti orang ketiga di dalam teks cerita sejarah juga dapat berupa nama orang atau nama tokoh.

2. Keterangan waktu (masa lampau)
Teks sejarah banyak menggunakan kata keterangan waktu. Keterangan waktu sendiri biasanya digunakan untuk memberikan keterangan tentang waktu atau kapan suatu peristiwa terjadi. Karena teks berupa sejarah, maka keterangan waktunya cenderung menunjukan masa lampau. Contoh penggunaan keterangan waktu, yaitu: “pada zaman”, “pada waktu”, “pada tahun”, dan lain-lainnya.

3. Keterangan tempat
Teks cerita sejarah menggunakan keterangan tempat. Keterangan tempat ini digunakan untuk memberikan keterangan yang menunjukkan dan menginformasikan lokasi atau tempat terjadinya peristiwa sejarah. Keterangan waktu dapat ditandai dengan beberapa kata, misalnya di, ke, dan dari.

 


Jangan lupa, kunjungi pula media sosial kami!
Youtube : SD Strada Van Lith 1
Facebook : SD Strada Van Lith 1
Instagram : sdstrada_vanlith1

 

Sebarkan artikel ini